Ketika Semua Orang Terlihat Sudah Sampai
The Pace Project - Every Journey Has Its Own Pace
Oleh: Ekhi, Rizky, Dzaki, Rian, Nabil, & Vio | 28 Juni 2026
Oleh: Ekhi, Rizky, Dzaki, Rian, Nabil, & Vio | 28 Juni 2026
Foto: Fore Coffee
Ada sebuah meja di sudut Fore Coffee yang selalu menjadi pilihan Naya sejak tahun pertama kuliahnya. Bukan karena tempatnya yang paling nyaman atau pemandangannya yang paling menarik, tetapi karena meja itu membuatnya lebih mudah dalam berpikir. Di sana, ia menyelesaikan tugas pertamanya, menyiapkan presentasi yang membuatnya cemas, hingga menulis halaman-halaman skripsinya.
Empat tahun telah berlalu, dan meja itu tetap sama. Aroma kopi yang khas masih menyambut setiap pengunjung. Suasana tenang di tempat tersebut masih menarik banyak mahasiswa, pekerja, serta pelaku usaha untuk menghabiskan waktu di sana. Namun, ada satu perbedaan. Kini Naya datang dengan beban pikiran yang jauh lebih berat.
Pagi itu, sebelum ia pergi ke Fore Coffee, ia membuka LinkedIn seperti biasa. Dalam waktu singkat, beranda-nya dipenuhi berita gembira. Ada teman yang diterima di perusahaan impian, ada yang membagikan foto wisuda, serta beberapa yang mengisahkan tentang usaha kecil yang sedang berkembang. Naya tersenyum melihat segala pencapaian itu, tetapi di saat yang sama, ada satu pertanyaan yang terus mengusik pikirannya.
"Jika mereka sudah mencapai itu semua, mengapa aku masih di tempat ini? "
Pertanyaan tersebut terus mengikutinya meskipun ia telah duduk di meja favoritnya di Fore Coffee. Laptop di depan, dokumen skripsi sudah siap, namun hampir satu jam berlalu tanpa satu kalimat pun yang ia tulis.
Sebenarnya, Naya bukanlah orang yang malas berusaha. Ia pernah begadang untuk menyelesaikan tugas, aktif dalam berbagai organisasi kampus, mengikuti beberapa kompetisi, hingga berulang kali memperbaiki proposal yang ditolak dosen pembimbing. Sayangnya, semua yang telah ia lakukan terasa tidak berarti dibandingkan dengan pencapaian orang lain yang muncul di layar ponselnya.
Tanpa kita sadari, media sosial sering kali membuat kita melihat pencapaian seseorang tanpa menunjukkan seberapa jauh mereka berusaha mencapainya. Kita melihat seseorang mengumumkan diterima bekerja, tetapi tidak melihat ratusan lamaran yang ditolak sebelumnya. Kita menyaksikan foto wisuda, tetapi tidak menyadari seberapa sering mereka merasa putus asa. Kita melihat kemajuan sebuah bisnis, tetapi tidak tahu seberapa banyak kegagalan yang telah dilalui.
Naya menutup ponselnya. Ia mulai memandang sekeliling Fore Coffee. Di meja sebelah, dua mahasiswa sedang berdiskusi sambil menatap laptop. Dekat jendela, seorang wanita tampak sibuk mengikuti rapat online. Tidak jauh dari sana, seorang pria menyusun kembali presentasinya sebelum pertemuan dengan klien. Semua orang tampak santai, tetapi siapa yang benar-benar tahu soal perjuangan yang mereka hadapi hari itu?
Pemandangan tersebut mengingatkan Naya pada dirinya beberapa tahun yang lalu.
Di lokasi yang sama, ia pernah duduk penuh semangat saat menyelesaikan tugas pertamanya sebagai mahasiswa baru. Di meja yang sama, ia dulu tertawa bersama teman-teman setelah berhasil menyelesaikan presentasi kelompok. Di Fore Coffee yang sama, ia pernah menangis sendiri ketika mengalami kegagalan dalam sebuah kompetisi. Namun, beberapa hari setelah itu, ia kembali ke tempat tersebut, membuka laptopnya, dan berusaha lagi.
Tiba-tiba Naya menyadari sesuatu yang penting.
Selama ini, Fore Coffee tidak pernah mengubah hidupnya. Tempat ini juga tidak memberikan solusi untuk setiap kecemasannya. Namun, di tempat itu, ia selalu menemukan waktu untuk berhenti sejenak, menenangkan pikirannya, dan kembali melanjutkan langkahnya.
Yang berubah dalam empat tahun terakhir bukanlah meja itu atau suasana di Fore Coffee. Yang berubah adalah dirinya.
Mahasiswa baru yang dulunya merasa takut berbicara di depan umum kini telah mampu memimpin presentasi. Pribadi yang dulu bingung menentukan arah hidupnya kini hampir menyelesaikan skripsi. Individu yang sebelumnya ragu untuk mengirimkan lamaran kerja sekarang sudah memiliki banyak pengalaman yang tidak ia sadari.
Mungkin, ia memang tidak melangkah secepat orang lain. Tetapi, itu tidak berarti ia tidak berusaha sama sekali.
Pada hari itu, Naya tidak langsung menyelesaikan semua revisi skripsinya. Ia juga belum mendapatkan panggilan dari pekerjaan impian. Namun, ia berhasil menyelesaikan satu bab revisi yang sudah ia tunda selama seminggu. Sebelum menutup laptop, ia juga mengirimkan satu lamaran kerja yang sebelumnya hanya berada dalam draf.
Langkahnya memang kecil. Namun, setiap perjalanan besar selalu dimulai dengan keberanian untuk mengambil langkah selanjutnya.
Di tengah dunia yang terus mendesak kita untuk bergerak lebih cepat, mungkin yang kita butuhkan bukanlah berlari lebih kencang, melainkan waktu untuk berhenti sejenak dan menyadari seberapa jauh kita telah melangkah. Bagi Naya, waktu itu selalu ia temukan di Fore Coffee. Bukan karena secangkir kopi dapat menyelesaikan semua masalah, tetapi karena di tempat itu ia belajar bahwa setiap proses layak untuk dihargai.
Tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Tidak semua orang menghadapi tantangan yang serupa. Dan tentu saja, tidak semua orang akan mencapai garis finis pada waktu yang sama.
Karena pada akhirnya, hidup bukanlah soal siapa yang tercepat. Hidup adalah tentang siapa yang tetap berani melangkah maju.
KALTA Insight
Brand yang kuat tidak selalu hadir sebagai pahlawan dalam sebuah cerita. Terkadang, hubungan yang paling bermakna justru tercipta ketika sebuah brand menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang. Melalui The Pace Project, Fore Coffee diposisikan bukan sekadar sebagai tempat menikmati kopi, tetapi sebagai ruang yang menemani proses belajar, bekerja, bangkit dari kegagalan, dan mempersiapkan langkah berikutnya.
Setiap orang pasti memiliki satu tempat yang selalu mereka datangi ketika membutuhkan ketenangan untuk berpikir atau keberanian untuk memulai lagi.
Apa tempatmu?
Bagikan ceritamu melalui #ThePaceProject, karena setiap perjalanan memiliki ritmenya sendiri.